Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Review Buku "Hati Sebening Mata Air"

Wew...saya sedang membaca buku bagus banget karya Amru Khalid...judulnya "Hati Sebening Mata Air". Walaupun baru baca 2 bab dari 10 bab, namun saya ingin bagi-bagi tentang hikmah yang saya dapat. Jadi kedua bab itu ceritanya tentang keikhlasan yang sangat sulit untuk diraih tapi masih ada kesempatan untuk menggenggamnya dengan erat. Memang semakin ikhlas kita melakukan sesuatu, setan akan semakin gencar menggoda agar kita menyekutukan keridhoan Allah SWT. Bahkan Allah berfirman yang intinya apabila kita melakukan sesuatu bukan semata-mata untuk Allah, Allah tak akan membalas amal kita tersebut. Mungkin inilah kutipannya... Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
"Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil" Sahabat bertanya "Apakah syirik kecil?" Rasul "Riya" Dan Allah akan berkata kepada orang-orang yang riya di hari kiamat "Pergilah kalian kepada orang yang memamerkan amalan kalian pada mereka dan apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka" (HR. Imam Ahmad dan Al-Baihaqi)

Ya ampun, menyeramkan sekali bukan??!!

Lalu ada pula hadist yang tak kalah mengerikan, mari kita simak...

Nabi bersabda:"Sungguh, orang yang pertama kali merasakan neraka pada hari kiamat..." Yakni, ada tiga golongan yang pertama kali dilemparkan ke neraka, siapa mereka?
Pertama, "Laki-laki yang mencari kesyahidan, maka (Allah) memberikan padanya, dan dihadapkan kepada Allah. Lalu Dia bertanya, "Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu?" Ia menjawab, "Aku berperang karena Engkau hingga aku terbunuh." Dia berkata, "Engkau bohong, kau berperang agar disebut pemberani, bukankah sudah disebut?". Lalu wajahnya ditarik, dan dilemparkan ke Jahannam. Inilah kaum yang pertama kali dilemparkan ke Jahannam.
Kedua, "Laki-laki yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an, maka (Allah) memberikan padanya, dan dia dihadapkan kepadaNya." Kepadanya Allah bertanya, "Apa yang kau lakukan pada nikmat itu?". Ia menjawab, "Ya Tuhanku, aku belajar ilmu karena Engkau, dan membaca Al-Qur'an karena Engkau." Allah menyanggah, "Kau bohong, kau belajar agar disebut alim, bukankah sudah dikatakan? Dan mengajarkan Al-Qur'an agar disebut qari', bukankah sudah dikatakan?". Kemudian Allah memerintah, hingga wajahnya ditarik, dan dilemparkan ke Jahannam.
Ketiga, "Laki-laki yang Allah lapangkan, dan Dia memberinya beragam hart. Lalu Allah memanggilny, "Apa yang kau lakukan pada nikmat itu?" Ia menjawab, "Ya Tuhanku, aku tidak tinggalkansatu jalan pun yang Engkau suka di sana dilakukan infak, kecuali aku berinfak di sana." Allah berkata, "Kamu bohong. Kamu berinfak agar disebut dermawan, bukankah sudah dikatakan?"
Nabi bersabda, "Mereka bertigalah yang pertama kali merasakan neraka Jahannam pada hari kiamat." (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Hhmmm...saya juga merasa tersindir dengan ungkapan "Keikhlasan itu bagaikan susu yang murni dan tak akan tercampur dengan darah dan kotoran". Jadi maksud ungkapan itu...secara logika, maukah kita minum susu yang berisi campuran yang kotor seperti itu? Apa kita pantas mempersembahkan amal kita pada Allah dengan campuran-campuran yang tidak baik pula? Maksudnya, kita juga mempersembahkan amal ibadah kita pada pihak selainNya..Saya harap kita tidak demikian.

"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui"


(Ya ampun..hampir saja tulisan ini ke-reset...)

Yes..Ujianku Sukses (IMPIAN BESAR PARA AKADEMISI)


1. Judul : Yes! Ujianku Sukses

2. Penulis : Fatan Fantastik

3. Ketebalan : 116 hlm

4. Cetakan : Pertama, Juni 2007

5. Penerbit : Pro-U Media

Ujian dalam dunia pendidikan merupakan hal yang lumrah dilaksanakan dan diperdebatkan. Belum lama ini, kontroverial mengenai UAN masih menggema di telinga masyarakat. Segala permasalahan itu terjadi salah satunya karena ketidaksiapan sistem pendidikan (baik dari guru, murid, dll).

Ujian, bagi sebagian orang, bagaikan hantu yang meneror tak kenal waktu. Sebenarnya ujian bukanlah suatu momok bila dihadapi dengan kesiapan dari para siswa. Ujian bak sebuah perang dan siswa sebagai prajuritnya. Apabila telah datang perang menghampiri para prajurit, mau tidak mau prajurit harus menghadapinya. Tak sedikit yang gagal bukan karena materi (hm. 55). Orang-orang yang gagal disebabkan kurangnya kesiapan. Sedangkan prajurit yang penuh dengan kesiapan akan mendapatkan hasil memuaskan dari perang tersebut

Oleh karena itu, ujian digunakan sebagai tolok ukur kemampuan dan penguasaan materi bagi siswa. Namun terkadang hal ini mulai terlupakan. Para siswa resah memikirkan harapannya untuk mendapatkan nilai tinggi dan melakukan segala cara untuk meraihnya. Mulai dari meminta bocoran, membuat contekan, dll. Kemalasan dan menunda pekerjaan muncul menjadi sebab ketidaksiapan dalam ujian. Siswa malas untuk mengulang pelajaran dan melimpahkan ‘tanggung jawab’ pada cara-cara curang tersbut.

Penulis, Fatan Fantastik, seorang trainer lulusan Psikologi UGM yang juga menulis buku Bikin Belajar Selezat Coklat. Ia mengemukakan permasalahan seputar ujian dan solusinya dengan bahasa yang meremaja serta menyuguhkan pembaca dengan kisah-kisah perenungan yang dibawakan dengan menarik.

Buku ini kecil, namun padat kaya informasi. Fatan juga mengajak pembaca melalui buku ini untuk lebih ahli dalam menyikapi pola belajar. Dalam buku ini, akan ditemukan cara-cara menyiasati ujian dan revolusi cara belajar. Siswa dituntut agar berusaha semaksimal mungkin dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian, bertawakal dan berdoa. Di buku ini, disediakan doa-doa yang membantu di kala belajar dan ujian. Selain itu, terdapat penuntun langkah dari menuju ujian hingga tiba saatnya ujian.

Ujian harus disikapi dengan jujur dan siap. Bila dilaksanakan dengan baik, niscaya para siswa akan tersenyum puas melihat hasil ujiannya dan akan merubah pola belajarnya dengan baik sesuai dengan dirinya masing-masing.

Ketika Cinta Bertasbih...novel populer Islam




A. Identitas Buku

  1. Judul Buku: Ketika Cinta Bertasbih
  2. Penulis: Habiburarahman El Shirazy
  3. Penerbit: Republika
  4. Cetakan: 2007
  5. Jumlah Halaman: 477 halaman
  6. Tebal Buku: 2 cm
  7. Ukuran Buku: 20,5 cm x 13,5 cm

B. Sinopsis

Seorang mahasiswa peraih beasiswa S1 asal Indonesia, Khairul Azzam, yang memiliki keahlian dalam memasak terpaksa harus memolorkan masa kuliahnya menjadi 9 tahun walaupun ia sempat mendapatkan nilai sempurna di tingkat 1. Azzam mendapatkan amanah yang berat semenjak ayahnya di kampung halaman meninggal dunia. Ia, sebagai anak tertua, harus menanggung kebutuhan keluarganya di kampung dengan cara membuat tempe dan bakso untuk dipasarkan di lingkungan KBRI di Kairo.

Karena Azzam sering bergaul di lingkungan KBRI, akhirnya ia mengenal putri seorang Duta Besar yaitu Eliana Pramesthi Alam. Eliana, seorang gadis cantik dan cerdas lulusan Perancis sempat membuat Azzam jatuh cinta. Namun sifat Eliana mencerminkan hidupnya yang hedonis karena lingkungan Eliana yang jauh dari nilai-nilai Islam. Azzam agak ragu untuk melangkahkan kakinya untuk mendekati Eliana. Azzam teringat pesan pak Ali, seorang supir KBRI, untuk mencari gadis lain saja untuk ia pinang.

Pak Ali berpesan padanya bahwa ada seorang putri cantik seorang Kiai Pesantren bernama Kiai Luthfi Hakim nan sholehah yang lebih pantas bersamanya dibandingkan Eliana yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Azzam. Gadis yang dimaksud Pak Ali yaitu bernama Anna Althafunnisa, gadis cerdas yang sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar – Cairo. Azzam harus segera melamar Anna sebelum didahului oleh orang lain.

Akhirnya Azzam berkeinginan melamar Anna, walaupun ia belum pernah bertemu dengan Anna. Ia melamar Anna melalui paman Anna yaitu Ustadz Mujab yang sedang berada di Cairo. Namun ternyata gadis yang akan ia lamar telah dilamar terlebih dahulu oleh orang lain. Pria yang telah melamar Anna ternyata Furqon, sahabatnya yang pernah satu atap bersamanya. Furqon, seorang mahasiswa S-2 asal Indonesia yang kaya dan cerdas. Azzam merasa begitu rendah diri pada saat itu. Sayangnya Furqon mendapatkan musibah yaitu penyakit HIV-AIDS yang membuatnya bingung untuk tetap istiqomah atau tidak dalam komitmennya melamar Anna.

Suatu saat, Azzam mendapatkan kabar dari adiknya, Ayyatul Husna, bahwa ia tidak perlu menanggung keuangan keluarga di kampung. Husna telah lulus kuliah dari UNS dan berhasil diterima sebagai psikolog dan penulis. Husna juga mampu membiayai adiknya kuliah D-3 dan adik terakhirnya bersekolah di pesantren. Jadi Azzam dapat meneruskan kuliahnya tanpa beban.

Kerinduan Azzam pada keluarga dan kampung halaman tidak terbendung lagi. Ia bertekad untuk serius dalam belajar dan akhirnya berhasil lulus. Lalu Azzam kembali ke keluarganya di Indonesia.

C. Intrinsik

1. Tema: Romantis Relijius

2. Alur: Campuran

3. Setting:

Sebuah kota di Mesir, bernama Cairo. Setting dalam cerita didominasi oleh keindahan kota metropolis Cairo yang dipenuhi terang-benderangnya lampu kota dan banyaknya bangunan (seperti kampus, slah satunya Universitas Al Azhar). Sebagian cerita juga bersetting di salah satu pantai di Mesir.

Penokohan:

Khairul Azzam: sederhana, pekerja keras, bertanggung jawab, sholeh

Anna Althafunnisa: lembut, sholehah, cerdas

Furqan: cerdas

Eliana: supel, hedonis, cerdas

D. Ekstrinsik

1. Biografi

Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, penyair, dan suami dari Muyasaratun Sa’idah. Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)

Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.

Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.

Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem. (disadur dari Wikipedia.com)

2. Latar Belakang Sejarah dan Sosial

Cerita dalam novel Ketika Cinta Bertasbih berlatar belakang di Mesir. Kisah hidup seorang pemuda Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar. Azzam, nama tokoh utama dalam novel ini. Ia memiliki kesulitan hidup yang membuatnya terombang-ambing dalam cobaan hidupnya.

Kang Abik, sang pengarang, menulis cerita ini berdasarkan pengalaman hidupnya yang pernah bersekolah di Universitas Al Azhar. Ia menuliskan banyak cerita yang menggambarkan hidup seorang lelaki Indonesia. Sebagai contoh, novelnya yang lain yaitu Ayat-ayat Cinta. (profil diambil dari novel Habiburahman El Shirazy)

Pinterest Gallery

Pages

Sponsor


widget